Skip to content

Desa Adat Padangtegal – Ubud

Angresangsya Mukyaning Dharma

Menu
  • Welcome
  • About Padangtegal
    • About Us
    • History
      • Sejarah Pura Dalem Agung Padangtegal
    • Religion & Spiritual
    • Organization
      • Kebendesaan
      • Desa Tempekan
      • Banjar
    • Business
      • Monkey Forest Ubud
      • LPD
      • Rumah Kompos
      • Bali Forest School
  • Photo Gallery
  • Events
  • Contact Us
  • Links
Menu

Perjalanan Suci dari Pura Prajapati, Pura Beji, hingga Pura Dalem

Posted on September 9, 2026 by padang

Makna, urutan persembahyangan, serta puja stawa bagi umat

Ketika dupa pertama dinyalakan di Pura Prajapati, sesungguhnya perjalanan yang ditempuh bukan hanya perjalanan dari satu pura menuju pura berikutnya. Ia adalah perjalanan ke dalam diri: dari kesadaran bahwa hidup tidak kekal, menuju penyucian pikiran dan perasaan, lalu berakhir pada penyerahan diri kepada Sang Hyang Siwa.

Di Pura Prajapati, umat memohon izin dan tuntunan untuk memulai perjalanan. Di Pura Beji, tubuh dan pikiran disucikan oleh tirtha. Di Pura Dalem, segala keakuan, ketakutan, dan kekotoran batin diserahkan kepada Sang Hyang Siwa melalui kemahakuasaan Bhatari Durga.

Dalam urutan persembahyangan yang dijelaskan oleh Desa Adat Padangtegal, perjalanan tersebut dilaksanakan melalui:

Pura Prajapati → Pura Beji → Pura Dalem Agung Padangtegal

Urutan ini dimaknai sebagai perjalanan dari permohonan restu, menuju penyucian, kemudian menuju pelepasan dan penyatuan kesadaran dengan Siwa. Namun, pelaksanaannya dapat berbeda di tempat lain karena dipengaruhi oleh Purwa Dresta, Loka Dresta, Desa Dresta, dan Sastra Dresta. (Padangtegal Ubud)


Tiga Pura, Tiga Tahapan Perjalanan Batin

TahapTempatTujuan utamaSikap batin
1Pura PrajapatiMemohon izin, restu, dan tuntunanMenyadari ketidakkekalan hidup
2Pura BejiMemohon penyucian melalui tirthaMelepaskan mala, leteh, dan kekotoran pikiran
3Pura DalemMemohon perlindungan, peleburan kekotoran, dan kerahayuanBerserah kepada Sang Hyang Siwa

Urutan ini bukan berarti ketiga pura lebih tinggi atau lebih rendah satu sama lain. Ketiganya membentuk rangkaian simbolis: permohonan restu, penyucian, dan penyerahan diri.


Tata Cara Umum Sebelum Memulai Persembahyangan

Tuntunan berikut ditujukan bagi pamedek atau umat umum, bukan merupakan tata cara nganteb, membuat tirtha, atau memimpin upacara yang menjadi kewenangan pemangku dan sulinggih.

Sebelum memulai perjalanan:

  1. Bersihkan tubuh dan kenakan pakaian adat sembahyang yang pantas.
  2. Siapkan persembahan / canang, dupa, bunga, dan kewangen sesuai kemampuan.
  3. Jaga ucapan, pikiran, dan perilaku selama berada di kawasan pura.
  4. Matikan atau kecilkan suara telepon.
  5. Ikuti arahan pemangku, pengayah, dan aturan pura.
  6. Apabila sedang berlangsung upacara tertentu, jangan mendahului rangkaian yang sedang dipimpin pemangku.

Sembahyang pada hakikatnya bukan hanya mengucapkan mantra. Sarana bunga, kewangen, dupa, sikap tubuh, ucapan suci, dan ketulusan batin merupakan satu kesatuan dalam penyampaian bhakti. (Kemenag Bali)


Pola Persembahyangan pada Setiap Pura

Secara umum, persembahyangan dilakukan dengan urutan:

  1. Matur piuning dan menghaturkan canang/sesajen
  2. Puja Tri Sandhya
  3. Kramaning Sembah atau Panca Sembah
  4. Nunas tirtha dan bija, apabila dilayani pemangku
  5. Menghaturkan parama santih

Dalam pelaksanaan Panca Sembah, mantra khusus Pura Prajapati, Pura Beji, atau Pura Dalem digunakan pada sembah ketiga, yaitu sembah kepada Ista Dewata. Sumber tuntunan mantra Ista Dewata juga menegaskan bahwa mantra khusus tempat tersebut menggantikan mantra umum pada sembah ketiga. (Paduarsana)


Kramaning Sembah yang Digunakan pada Setiap Pura

1. Sembah Puyung Pembuka

Tangan dicakupkan tanpa bunga atau kewangen.

Om Atma Tattvatma Suddha Mam Swaha.

Maknanya:

Ya Tuhan, sumber dan hakikat Atma, sucikanlah diri hamba.


2. Sembah kepada Sang Hyang Siwa Raditya

Menggunakan bunga, lazimnya bunga putih apabila tersedia.

Om Adityasya Param Jyotir,
Rakta Tejo Namo’stute,
Sweta Pankaja Madhyastha,
Bhaskaraya Namo’stute.

Maknanya:

Ya Tuhan dalam manifestasi Sang Hyang Siwa Raditya, sumber cahaya yang menerangi kehidupan, hamba bersujud kepada-Mu.


3. Sembah kepada Ista Dewata

Menggunakan kewangen atau bunga.

Pada bagian inilah dibaca mantra sesuai tempat:

  • di Pura Prajapati: Brahma Prajapati Stawa;
  • di Pura Beji: Gangga Dewi Stawa;
  • di Pura Dalem: Catur Dewi atau Durga Stawa.

Mantra masing-masing disampaikan pada bagian tersendiri di bawah.


4. Sembah Memohon Waranugraha

Menggunakan bunga atau kewangen.

Om Anugraha Manoharam,
Dewa Datta Nugrahaka,
Arcanam Sarwa Pujanam,
Namah Sarwa Nugrahaka.

Dewa-Dewi Mahasiddhi,
Yajnanya Nirmalatmaka,
Laksmi Siddhisca Dirghayuh,
Nirwighna Sukha Wrddhisca.

Maknanya:

Ya Tuhan, pemberi segala anugerah, pujaan dari segala pujaan. Anugerahkanlah kesucian yadnya, kebahagiaan, keberhasilan, umur panjang, kehidupan yang bebas dari rintangan, serta kemajuan lahir dan batin.


5. Sembah Puyung Penutup

Tangan kembali dicakupkan tanpa bunga atau kewangen.

Om Dewa Suksma Paramacintyaya Namah Swaha.
Om Santih, Santih, Santih, Om.

Maknanya:

Ya Tuhan Yang Mahagaib dan tidak terjangkau oleh pikiran, kepada-Mu hamba bersujud. Semoga damai di dalam diri, damai di dunia, dan damai dalam seluruh kehidupan.

Susunan Panca Sembah tersebut terdiri atas dua sembah puyung—pembuka dan penutup—serta tiga sembah menggunakan bunga atau kewangen. (Paduarsana)


Tahap Pertama: Persembahyangan di Pura Prajapati

Gerbang Awal Perjalanan

Perjalanan dimulai di Pura Prajapati. Dalam konteks urutan persembahyangan Padangtegal, pura ini menjadi tempat memohon izin dan restu sebelum umat memasuki tahap penyucian di Pura Beji dan persembahyangan utama di Pura Dalem.

Pura Prajapati dipahami sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Brahma Prajapati, penguasa dan pencipta makhluk. Letaknya yang berkaitan dengan kawasan setra juga mengingatkan manusia bahwa segala sesuatu yang lahir pada akhirnya akan berubah dan kembali kepada sumbernya. Dalam narasi spiritual Padangtegal, Prajapati merupakan tahap kesadaran awal terhadap ketidakkekalan kehidupan. (Padangtegal Ubud)

Manusia datang ke hadapan Sang Hyang Prajapati bukan untuk merasa takut terhadap kematian. Umat datang untuk menyadari bahwa waktu kehidupan terbatas sehingga setiap kesempatan harus dipergunakan untuk melaksanakan dharma.


Tata Cara di Pura Prajapati

  1. Masuk dengan sikap hormat dan tenang.
  2. Haturkan canang/sesajen dan nyalakan dupa pada tempat yang telah disediakan.
  3. Duduk dengan tertib menghadap pelinggih.
  4. Matur piuning bahwa umat akan melaksanakan rangkaian persembahyangan menuju Pura Beji dan Pura Dalem.
  5. Laksanakan Panca Sembah.
  6. Pada sembah ketiga, baca Brahma Prajapati Stawa.
  7. Mohon izin, tuntunan, dan keselamatan selama melaksanakan rangkaian persembahyangan.
  8. Nunas tirtha dan bija apabila dilayani oleh pemangku.
  9. Setelah selesai, lanjutkan perjalanan menuju Pura Beji.

Brahma Prajapati Stawa

Om Brahma Prajapatih Sresthah,
Swayambhur Warado Guruh,
Padmayonis Catur Waktro,
Brahma Sakalam Ucyate.

Mantra tersebut dicatat sebagai mantra Ista Dewata untuk persembahyangan di Pura Prajapati. (Paduarsana)

Makna

Om, sembah kepada Sang Hyang Brahma Prajapati, pencipta seluruh makhluk, Yang Mahamulia dan ada karena kemahakuasaan-Nya sendiri; pemberi anugerah dan Mahaguru; lahir dari bunga padma, berwajah empat, serta meliputi seluruh ciptaan.

Empat wajah Brahma secara filosofis dapat direnungkan sebagai kemahatahuan yang memandang ke seluruh penjuru, sekaligus sebagai simbol bahwa kehidupan tumbuh di dalam keteraturan ilahi.


Atur Panyuwunan Ringkas

Setelah membaca mantra, umat dapat menyampaikan permohonan dengan bahasa yang dipahami. Berikut contoh dalam bahasa Bali. Ini merupakan doa bebas, bukan mantra baku:

Ratu Sang Hyang Prajapati, titiang matur piuning saha nunas lugra. Tuntun pemargi sembah bhakti titiang, mangda rahayu, siddha, tur tan wenten sambekala.

Maknanya:

Sang Hyang Prajapati, hamba menghaturkan pemberitahuan dan memohon izin. Tuntunlah perjalanan sembah bhakti hamba agar selamat, berhasil, dan terhindar dari rintangan.


Tahap Kedua: Persembahyangan di Pura Beji

Air sebagai Jalan Penyucian

Setelah memperoleh izin dan restu di Pura Prajapati, perjalanan dilanjutkan menuju Pura Beji.

Pura Beji merupakan tempat umat memohon penyucian melalui kekuatan suci air. Dalam artikel Padangtegal, Beji dipahami sebagai tempat pemujaan Dewi Gangga atau manifestasi Dewa Wisnu sebagai sumber kehidupan dan pemeliharaan. Tahapan ini melambangkan pembersihan lahir dan batin sebelum umat memasuki puncak persembahyangan di Pura Dalem. (Padangtegal Ubud)

Air di Pura Beji tidak hanya membersihkan tubuh. Tirtha mengingatkan manusia untuk membersihkan:

  • pikiran dari kebencian dan prasangka;
  • perkataan dari kebohongan dan kekasaran;
  • tindakan dari perilaku yang merugikan;
  • hati dari kesombongan dan keterikatan.

Air selalu bergerak menuju tempat yang lebih rendah, tetapi justru memberi kehidupan kepada semua makhluk. Demikian pula manusia yang telah disucikan diharapkan menjadi lebih rendah hati dan bermanfaat bagi lingkungannya.


Tata Cara di Pura Beji

  1. Masuk dengan tertib dan jangan langsung mengambil atau menyentuh sumber air suci.
  2. Haturkan sesajen/canang dan dupa.
  3. Matur piuning ke hadapan Bhatari Gangga atau sesuhunan yang bersthana di Pura Beji.
  4. Laksanakan Panca Sembah.
  5. Pada sembah ketiga, baca Gangga Dewi Stawa.
  6. Mohon tirtha kepada pemangku.
  7. Lanjutkan perjalanan menuju Pura Dalem.

Di beberapa pura, panglukatan dilakukan sebelum persembahyangan; di tempat lain dilakukan sesudahnya. Pelaksanaan setempat harus mengikuti arahan pemangku dan Desa Dresta.


Gangga Dewi Stawa

Om Gangga Dewi Mahapunyam,
Gangga Salanca Medini,
Gangga Tarangga Samyuktam,
Gangga Dewi Namo’stute.

Bacaan Gangga Stawa tersebut juga tercatat dalam karya yang membahas mantra dan praktik ritual Bali. Terdapat variasi penyalinan, seperti salanca medini, sahasra medini, atau bentuk pelafalan setempat lainnya. (repo.mahadewa.ac.id)

Makna

Karena teks tersebut merupakan bentuk Sanskerta Kepulauan yang hidup dalam tradisi Bali, terjemahan berikut bersifat maknawi:

Om, sembah kepada Dewi Gangga yang mahasuci dan memberikan pahala kesucian; yang mengalir dan menghidupi bumi; yang hadir dalam aliran air suci. Sembah hormat kepada Bhatari Gangga.


Atur Panyuwunan Ringkas

Ratu Bhatari Gangga, titiang nunas tirtha panglukatan. Suciyang sarira-pramana titiang, enyahang pikayun, tur leburang sarwa mala lan leteh.

Maknanya:

Bhatari Gangga, hamba memohon tirtha panglukatan. Sucikanlah tubuh dan batin hamba, jernihkan pikiran, serta leburlah segala kekotoran lahir dan batin.

Setelah menerima panglukatan, umat hendaknya tidak hanya merasa tubuhnya telah dibersihkan. Penyucian perlu dilanjutkan dengan menjaga pikiran, ucapan, dan perbuatan.


Tahap Ketiga: Persembahyangan di Pura Dalem

Memasuki Ruang Pralina dan Transformasi

Setelah memohon restu di Prajapati dan menyucikan diri di Beji, umat memasuki Pura Dalem sebagai tahapan terakhir.

Pura Dalem berkaitan dengan pemujaan Sang Hyang Siwa dalam fungsi pralina—peleburan, pengembalian, dan transformasi. Dalam konteks ini, Bhatari Durga dipuja sebagai Mahasakti Sang Hyang Siwa Jagatpati.

Pura Dalem bukan tempat untuk menumbuhkan rasa takut. Pralina bukan kehancuran tanpa tujuan. Pralina adalah proses mengembalikan sesuatu yang telah selesai menjalankan fungsinya kepada sumber asalnya, sehingga kehidupan dapat diperbarui.

Dalam perjalanan batin, yang hendak dilebur di Pura Dalem adalah:

  • kesombongan;
  • kebencian;
  • kemarahan;
  • iri hati;
  • keterikatan berlebihan;
  • ketakutan terhadap perubahan;
  • dan keakuan yang menjauhkan manusia dari dharma.

Dalam artikel Padangtegal, Pura Dalem Agung diposisikan sebagai puncak perjalanan: setelah melalui kesadaran awal dan penyucian, umat memasuki tahap penyerahan diri kepada Siwa serta perenungan tentang pelepasan ego. (Padangtegal Ubud)


Tata Cara di Pura Dalem

  1. Masuk ke areal pura dengan sikap tenang dan tidak gaduh.
  2. Haturkan sesajen/canang dan dupa sesuai tempat yang disediakan.
  3. Matur piuning ke hadapan Sang Hyang Siwa dan Bhatari Durga.
  4. Laksanakan Panca Sembah.
  5. Pada sembah ketiga, baca Catur Dewi atau Durga Stawa.
  6. Mohon pengampunan, perlindungan, peleburan kekotoran, kasomyan sarwa bhuta, dan kerahayuan jagat.
  7. Apabila persembahyangan berkaitan dengan Pitra Yadnya, ikuti sepenuhnya puja dan tuntunan pemangku atau sulinggih.
  8. Nunas tirtha dan bija.
  9. Tutup dengan Parama Santih.

Catur Dewi atau Durga Stawa Ringkas

Om Catur Diwya Mahasakti,
Catur Asrame Bhatari,
Siwa Jagatpati Dewi,
Durga Masarira Dewi.

Dalam sumber tertulis dijumpai bentuk Catur Diwja Mahasakti dan Durga Sarira Dewi, sedangkan dalam pelafalan yang hidup di Bali sering terdengar Catur Dewi Mahadewi dan Durga Masarira atau Masariram Dewi. Pokok pemujaannya tetap sama: Sang Mahadewi sebagai Sakti Siwa yang hadir dalam wujud Bhatari Durga. (Paduarsana)

Makna

Om, sembah kepada Sang Mahasakti ilahi yang memiliki kemahakuasaan beraspek empat; Bhatari yang menaungi perjalanan Catur Asrama; Sakti Sang Hyang Siwa, Penguasa jagat; Sang Mahadewi yang mengambil perwujudan sebagai Bhatari Durga.

Bhatari Durga tidak dipuja sebagai kekuatan kejahatan. Dalam konteks Pura Dalem, Beliau adalah kekuatan ilahi yang mengendalikan kekacauan, melebur kekotoran, melindungi kehidupan, dan mengembalikan keseimbangan.


Atur Panyuwunan Ringkas

Ratu Bhatari Durga, Sakti Sang Hyang Siwa Jagatpati, titiang nunas pangraksa, pangampura, kasomyan sarwa bhuta, miwah kerahayuan sekala-niskala.

Maknanya:

Bhatari Durga, Sakti Sang Hyang Siwa Jagatpati, hamba memohon perlindungan dan pengampunan, keharmonisan seluruh kekuatan alam, serta keselamatan sekala dan niskala.

Dapat dilanjutkan dalam hati:

Leburang sarwa mala, papa, pataka, lara, roga, miwah wighna ring sarira-pramana titiang. Tuntun titiang ring pemargi dharma.

Maknanya:

Leburlah segala kekotoran, kesalahan, penderitaan, penyakit, dan rintangan dalam diri hamba. Tuntunlah hamba di jalan dharma.


Ringkasan Praktis untuk Dibawa Saat Sembahyang

1. Pura Prajapati

Tujuan:

Memohon izin, restu, tuntunan, dan kelancaran perjalanan sembahyang.

Mantra:

Om Brahma Prajapatih Sresthah,
Swayambhur Warado Guruh,
Padmayonis Catur Waktro,
Brahma Sakalam Ucyate.


2. Pura Beji

Tujuan:

Memohon penyucian tubuh, pikiran, ucapan, dan batin.

Mantra:

Om Gangga Dewi Mahapunyam,
Gangga Salanca Medini,
Gangga Tarangga Samyuktam,
Gangga Dewi Namo’stute.


3. Pura Dalem

Tujuan:

Memohon perlindungan, pengampunan, peleburan kekotoran, kasomyan sarwa bhuta, dan kerahayuan.

Mantra:

Om Catur Diwya Mahasakti,
Catur Asrame Bhatari,
Siwa Jagatpati Dewi,
Durga Masarira Dewi.



Catatan tentang Dresta

Urutan dan tata cara di atas mengikuti pemaknaan yang digunakan dalam artikel Desa Adat Padangtegal. Di desa adat lain dapat dijumpai urutan yang berbeda. Ada yang tidak melaksanakan persembahyangan di Pura Prajapati dalam persembahyangan umum, ada yang melaksanakan panglukatan sebelum Panca Sembah, dan ada pula Pura Beji dengan sesuhunan serta mantra khusus.

Perbedaan tersebut tidak harus dianggap sebagai pertentangan, karena praktik Hindu Bali berjalan dalam bingkai:

  • Purwa Dresta: tradisi tua yang diwariskan leluhur;
  • Loka Dresta: kebiasaan yang diterima secara umum;
  • Desa Dresta: aturan dan tradisi khusus suatu desa;
  • Sastra Dresta: tuntunan yang bersumber pada sastra keagamaan.

Karena itu, tuntunan pemangku dan ketentuan Desa Adat Padangtegal tetap menjadi pedoman utama ketika melaksanakan persembahyangan di pura setempat. (Padangtegal Ubud)


Penutup: Perjalanan untuk Kembali kepada Kesadaran

Perjalanan dari Prajapati menuju Beji dan berakhir di Pura Dalem mengajarkan bahwa kehidupan rohani tidak dapat dimulai tanpa kerendahan hati.

Di Prajapati, manusia mengakui bahwa dirinya tidak berkuasa atas kelahiran dan kematian.

Di Beji, manusia menyadari bahwa untuk mendekati kesucian, ia terlebih dahulu harus membersihkan diri.

Di Pura Dalem, manusia belajar menyerahkan ego, ketakutan, kemarahan, dan keterikatannya kepada Sang Hyang Siwa.

Pura Prajapati mengajarkan kesadaran.
Pura Beji mengajarkan penyucian.
Pura Dalem mengajarkan penyerahan dan transformasi.

Pada akhirnya, perjalanan itu bukan semata-mata perjalanan melewati tiga pura. Ia adalah perjalanan manusia untuk kembali menemukan kesucian yang sejak awal telah bersemayam di dalam dirinya.

Om Santih, Santih, Santih, Om.

Recent Posts

  • Perjalanan Suci dari Pura Prajapati, Pura Beji, hingga Pura Dalem
  • Urutan Sembahyang di Pura Prajapati, Pura Beji dan Pura Dalem
  • Pura Dalem Agung Padangtegal: Sejarah, Fungsi, dan Etika
  • Persembahyangan Tilem Sasih Kasa
  • Badan Pengelola MSWW – Resmi Dibentuk

Archives

  • September 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • February 2026
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025

Categories

  • Ceremony
  • Community
  • News