Skip to content

Desa Adat Padangtegal – Ubud

Angresangsya Mukyaning Dharma

Menu
  • Welcome
  • About Padangtegal
    • About Us
    • History
      • Sejarah Pura Dalem Agung Padangtegal
    • Religion & Spiritual
    • Organization
      • Kebendesaan
      • Desa Tempekan
      • Banjar
    • Business
      • Monkey Forest Ubud
      • LPD
      • Rumah Kompos
      • Bali Forest School
  • Photo Gallery
  • Events
  • Contact Us
  • Links
Menu

Banjar

Empat Banjar Adat Padangtegal: Kaja, Mekarsari, Kelod, dan Padang Kencana

Di tengah perkembangan Ubud sebagai pusat kebudayaan dan pariwisata dunia, Desa Adat Padangtegal tetap hidup melalui sistem kemasyarakatan yang berakar kuat pada adat Bali. Kehidupan tersebut tidak hanya digerakkan dari tingkat desa, tetapi juga tumbuh dari ruang sosial yang paling dekat dengan masyarakat, yaitu banjar.

Desa Adat Padangtegal memiliki empat Banjar Adat: Banjar Padangtegal Kaja, Banjar Padangtegal Mekarsari, Banjar Padangtegal Kelod, dan Banjar Padang Kencana. Keempatnya menjadi tempat krama berkoordinasi, bermusyawarah, melaksanakan kewajiban adat, mempersiapkan upacara, menjalankan kegiatan sosial, serta mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya. 

Banjar di Padangtegal bukan sekadar pembagian wilayah tempat tinggal. Setiap banjar memiliki prajuru, bale banjar, parhyangan, kegiatan masyarakat, tanggung jawab upacara, organisasi pemuda, serta pola hubungan sosial yang mengikat para anggotanya. Melalui banjar, keputusan yang dihasilkan dalam paruman desa dapat diterjemahkan menjadi kerja bersama di tingkat masyarakat. 

Banjar Adat dan Desa Tempekan

Awig-Awig Desa Pakraman Padangtegal membedakan antara empat Desa Tempekan dan empat Banjar Pakraman atau Banjar Suka Duka.

Empat Desa Tempekan tersebut adalah:

  1. Tempekan Desa Dalem Gede
  2. Tempekan Desa Dalem Alit
  3. Tempekan Desa Bale Agung
  4. Tempekan Desa Puseh

Sementara empat Banjar Pakraman yang tercatat dalam Awig-Awig adalah Padangtegal Kaja, Padangtegal Mekarsari, Padangtegal Klod—kini lazim ditulis Kelod—dan Padang Kencana. Dengan demikian, tempekan dan banjar merupakan dua susunan kemasyarakatan yang saling mendukung, tetapi tidak sepenuhnya sama. 

Tempekan terutama berkaitan dengan pembagian kelompok krama dalam pelaksanaan kewajiban desa dan pura, sedangkan banjar menjadi ruang kehidupan sosial, adat, budaya, dan kemasyarakatan sehari-hari. Dalam pelaksanaan karya besar, ngaben bersama, piodalan, kegiatan kebudayaan, ataupun program lingkungan, kedua susunan tersebut dapat bekerja berdampingan sesuai pembagian tugas yang telah disepakati.

Banjar Padangtegal Kaja

Dalam orientasi ruang tradisional Bali, istilah kaja mengacu pada arah menuju gunung atau arah yang secara kosmologis dianggap lebih utama. Oleh karena itu, penyebutan Kaja tidak selalu dapat disamakan begitu saja dengan arah utara menurut kompas modern.

Awig-Awig Desa Pakraman Padangtegal menetapkan bahwa piodalan pada parhyangan Banjar Padangtegal Kaja dilaksanakan pada Buda Wage Klawu, yaitu hari Rabu Wage dalam wuku Klawu. Hari tersebut menjadi salah satu titik penting bagi krama banjar untuk berkumpul, ngayah, mempersiapkan upakara, serta melaksanakan persembahyangan bersama. 

Organisasi kepemudaan di banjar ini dikenal sebagai Sekaa Teruna Taruna Suka Duka Padangtegal Kaja. Keterlibatan generasi mudanya dapat dilihat dalam berbagai kegiatan seni, sosial, dan lingkungan.

Pada Agustus 2014, Taruna Suka Duka Padangtegal Kaja menyelenggarakan Trena Jenggala Cup I, sebuah lomba makendang tunggal dan bapang barong tingkat Bali di panggung terbuka Mandala Suci Wanara Wana. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperdalam seni barong sekaligus melanjutkan tradisi para seniman Padangtegal. 

Kepedulian terhadap lingkungan juga tampak melalui program Monkey Food Drive. Program yang dimulai pada 2021 tersebut mengajak warga mengumpulkan buah dan jajanan lungsuran Galungan yang masih layak, tanpa plastik dan kertas, untuk dimanfaatkan sebagai variasi pakan satwa di Monkey Forest. Pada pelaksanaan tahun 2024, sekitar enam karung lungsuran berhasil dikumpulkan. Kegiatan ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah sisa hari raya, tetapi juga membangun kesadaran bahwa hutan dan satwa di dalamnya merupakan bagian dari tanggung jawab bersama masyarakat Padangtegal. 

Dari pelestarian kesenian hingga kegiatan lingkungan, Banjar Padangtegal Kaja memperlihatkan bagaimana kehidupan banjar dapat menjadi tempat bertemunya nilai adat, kreativitas, dan kepedulian terhadap alam.

Banjar Padangtegal Mekarsari

Banjar Padangtegal Mekarsari merupakan salah satu dari empat kesatuan Banjar Adat dalam Desa Adat Padangtegal. Awig-Awig menetapkan piodalan pada parhyangan banjar ini berlangsung pada Buda Kliwon Matal, yaitu Rabu Kliwon dalam wuku Matal. 

Organisasi pemudanya dikenal dalam berbagai dokumentasi sebagai Sekaa Teruna Suka Duka Padangtegal Mekarsari. Bersama organisasi pemuda dari tiga banjar lainnya, kelompok ini terlibat dalam pawai ogoh-ogoh, persiapan karya desa, ngayah menghias bangunan upacara, serta berbagai kegiatan kebudayaan Desa Adat Padangtegal. 

Salah satu dokumentasi yang memperlihatkan peran Mekarsari dalam pemberdayaan generasi muda adalah program edukasi kreativitas desain yang dilakukan pada 2020 dan dipublikasikan dalam jurnal Institut Seni Indonesia Denpasar pada 2021. Kegiatan tersebut memberikan pelatihan pembuatan masker kreatif dari kain perca serta pemanfaatan pakaian lama menggunakan teknik tie-dye. 

Program tersebut melibatkan perwakilan muda-mudi Sekaa Teruna Teruni Mekarsari melalui video tutorial, media sosial, diskusi, dan pendampingan praktik secara langsung. Selain membantu masyarakat beradaptasi pada masa pandemi, kegiatan itu diarahkan untuk menumbuhkan kreativitas serta membuka kemungkinan usaha ekonomi kreatif bagi generasi muda. 

Bale Banjar Padangtegal Mekarsari juga terpetakan dalam direktori lokasi publik di kawasan Jalan Sugriwa. Posisi ini menempatkan kehidupan banjar di tengah lingkungan Ubud yang dinamis, tempat permukiman masyarakat, kegiatan adat, usaha lokal, dan arus pariwisata berlangsung berdampingan. Lokasi dan batas detailnya tetap perlu mengikuti data resmi banjar dan desa adat. 

Melalui kegiatan keagamaan, kreativitas pemuda, dan kerja kolektif dalam karya desa, Mekarsari menunjukkan bahwa banjar dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus ruang pengembangan kemampuan masyarakat.

Banjar Padangtegal Kelod

Dalam orientasi tradisional Bali, kelod menunjuk arah menuju laut atau arah hilir. Seperti kaja, istilah kelod merupakan bagian dari sistem orientasi kosmologis Bali dan tidak selalu identik dengan arah selatan menurut kompas.

Dalam naskah Awig-Awig, nama banjar ini ditulis Padangtegal Klod, sedangkan dalam penggunaan modern lebih sering ditulis Padangtegal Kelod. Piodalan pada parhyangan Banjar Padangtegal Kelod dilaksanakan pada Buda Wage Klawu, hari yang sama dengan piodalan parhyangan Banjar Padangtegal Kaja. 

Banjar Padangtegal Kelod mempunyai hubungan kelembagaan dan spiritual yang khusus dengan Pura Taman Sari. Awig-Awig mencatat Pura Taman Sari sebagai salah satu Pura Manca Desa Pakraman Padangtegal dan menetapkan krama Banjar Padangtegal Kelod sebagai pengemponnya. Piodalan Pura Taman Sari juga dilaksanakan pada Buda Wage Klawu. 

Sebagai pengempon, krama banjar memiliki tanggung jawab dalam menjaga kesucian, kelangsungan upacara, pemeliharaan kawasan pura, serta pelaksanaan ayahan sesuai ketentuan adat dan hasil paruman. Hubungan dengan Pura Taman Sari menjadi salah satu ciri penting dalam identitas religius Banjar Padangtegal Kelod.

Organisasi pemudanya dikenal sebagai Sekaa Teruna Suka Duka Padangtegal Kelod. Yowana Kelod terlibat dalam pawai ogoh-ogoh, persiapan upacara Atiwa-tiwa, serta kegiatan ngayah untuk Karya Padudusan Agung dan Ngusaba Nini. Dalam kegiatan tersebut, para pemuda tidak hanya membantu pekerjaan fisik, tetapi juga belajar membuat dekorasi, memasang kain, mengolah ornamen, dan memahami estetika upacara Bali. 

Tradisi seni di Kelod juga tercermin melalui keberadaan Sekaa Gong Sandhi Swara Padangtegal Kelod. Kelompok ini tercatat mendukung pementasan Calonarang dalam rangkaian kegiatan keagamaan di Pura Dalem Agung Padangtegal pada 2025. 

Dengan tanggung jawab terhadap Pura Taman Sari serta kehidupan seni yang aktif, Banjar Padangtegal Kelod menjadi salah satu penyangga penting kehidupan parahyangan dan kebudayaan Desa Adat Padangtegal.

Banjar Padang Kencana

Padang Kencana tercatat secara tegas dalam Awig-Awig sebagai satu dari empat Banjar Pakraman Desa Pakraman Padangtegal. Keberadaannya penting untuk dipahami karena namanya tidak muncul sebagai lingkungan administratif tersendiri dalam sejumlah dokumen pemerintahan Kelurahan Ubud.

Piodalan pada parhyangan Banjar Padang Kencana dilaksanakan pada Saniscara Kliwon Landep, yaitu Sabtu Kliwon dalam wuku Landep atau hari yang dikenal luas sebagai Tumpek Landep. 

Kelompok pemudanya disebut sebagai Sekaa Teruna Padang Kencana dan dalam publikasi yang lebih baru juga disebut ST Trena Kencana. Dokumentasi pawai ogoh-ogoh tahun 2023 menghubungkan Sekaa Teruna Padang Kencana dengan Tempekan Dalem Alit, sedangkan dokumentasi karya tahun 2025 menyebut ST Trena Kencana, Pengosekan. 

Keterangan tersebut memperlihatkan hubungan yang khas antara keanggotaan banjar, pembagian tempekan, dan ruang tempat tinggal. Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa peta sosial Desa Adat Padangtegal tidak dapat dibaca hanya berdasarkan nama-nama lingkungan administrasi pemerintah.

Yowana Padang Kencana terlibat bersama tiga sekaa teruna lainnya dalam pembuatan ogoh-ogoh, persiapan upacara Atiwa-tiwa, dekorasi sarana upacara, dan ngayah menyongsong karya besar di Pura Desa lan Puseh. Dalam kegiatan semacam ini, perbedaan asal banjar tidak menjadi penghalang. Para pemuda bekerja sebagai satu kesatuan Yowana Desa Adat Padangtegal. 

Kehadiran Padang Kencana menegaskan bahwa identitas adat dibentuk oleh hubungan sejarah, kewajiban keagamaan, keanggotaan krama, dan rasa kebersamaan—bukan semata-mata oleh garis pembagian wilayah administratif.

Empat Banjar dalam Karya Bersama

Walaupun masing-masing banjar mempunyai parhyangan, piodalan, organisasi, dan tanggung jawab tersendiri, keempatnya tidak berdiri sebagai kesatuan yang terpisah. Mereka bertemu dalam berbagai kegiatan desa, seperti piodalan Kahyangan Tiga, Ngusaba Desa, Ngusaba Nini, upacara Pitra Yadnya, pawai ogoh-ogoh, kegiatan kesenian, kebersihan lingkungan, serta pengelolaan kehidupan sosial masyarakat.

Pada persiapan Karya Padudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini tahun 2025, yowana dari Padangtegal Kaja, Mekarsari, Kelod, dan Padang Kencana bekerja bersama menghias bangunan serta sarana upacara. Kerja kolektif tersebut dipandang sebagai bagian dari pembentukan rasa ikhlas, bakti, solidaritas, dan semangat sagilik-saguluk di kalangan generasi muda. 

Dalam kehidupan sehari-hari, banjar juga menjadi tempat bergeraknya kelompok PKK, sekaa teruna, sekaa gong, kelompok seni, pecalang, serta berbagai tim sosial dan lingkungan. Melalui organisasi-organisasi tersebut, masyarakat menjalankan kegiatan kesejahteraan keluarga, pelestarian seni, keamanan, kebersihan, pendidikan, dan pelayanan sosial. 

Banjar dan Tri Hita Karana

Peran empat banjar di Padangtegal dapat dipahami melalui filosofi Tri Hita Karana.

Parahyangan diwujudkan melalui pemeliharaan parhyangan banjar, pelaksanaan piodalan, ngayah, pembuatan banten, dan keterlibatan dalam upacara desa.

Pawongan diwujudkan melalui paruman, suka-duka, gotong royong, pelayanan sosial, kegiatan pemuda, pendidikan budaya, serta kepedulian terhadap anggota masyarakat.

Palemahan diwujudkan melalui kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, perlindungan ruang suci, konservasi hutan, serta kepedulian terhadap satwa dan alam.

Prinsip tersebut juga terlihat dalam pengelolaan Mandala Suci Wenara Wana. Kawasan ini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi merupakan hutan suci, kawasan konservasi, lanskap spiritual, dan aset desa yang mendukung pemeliharaan pura, pelestarian alam, kesejahteraan masyarakat, pendidikan budaya, serta pembangunan ekonomi lokal. 

Empat Banjar, Satu Padangtegal

Banjar Padangtegal Kaja, Padangtegal Mekarsari, Padangtegal Kelod, dan Padang Kencana mempunyai karakter, parhyangan, serta dinamika masing-masing. Namun, seluruhnya terikat oleh satu identitas bersama sebagai krama Desa Adat Padangtegal.

Di bale banjar, generasi muda belajar berorganisasi. Di parhyangan, krama memelihara hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam kegiatan suka-duka, masyarakat saling membantu. Dalam karya desa, semua banjar menyatukan tenaga, pikiran, keterampilan, dan rasa bakti.

Karena itulah, kekuatan Desa Adat Padangtegal tidak hanya terletak pada pura, hutan suci, atau aset yang dimilikinya. Kekuatan tersebut terutama hidup dalam hubungan antarmanusia—dalam kebersamaan empat banjar yang terus menjaga adat, budaya, lingkungan, dan masa depan Padangtegal.

Recent Posts

  • Urutan Sembahyang di Pura Prajapati, Pura Beji dan Pura Dalem
  • Pura Dalem Agung Padangtegal: Sejarah, Fungsi, dan Etika
  • Persembahyangan Tilem Sasih Kasa
  • Badan Pengelola MSWW – Resmi Dibentuk
  • Prajaniti Award & Adi Sewaka Nugraha

Archives

  • July 2026
  • June 2026
  • February 2026
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025

Categories

  • Ceremony
  • Community
  • News