Skip to content

Desa Adat Padangtegal – Ubud

Angresangsya Mukyaning Dharma

Menu
  • Welcome
  • About Padangtegal
    • About Us
    • History
      • Sejarah Pura Dalem Agung Padangtegal
    • Religion & Spiritual
    • Organization
    • Business
      • Monkey Forest Ubud
      • LPD
      • Rumah Kompos
      • Bali Forest School
  • Photo Gallery
  • Events
  • Contact Us
  • Links
Menu

Prajaniti Award & Adi Sewaka Nugraha

Posted on July 12, 2026July 12, 2026 by padang

Sehari, Dua Panggung Kehormatan:
Nama Padangtegal Menggema di UNHI dan Ardha Candra

Hari Saniscara Wage Medangsia, Sabtu, 11 Juli 2026, menjadi hari istimewa bagi Desa Adat Padangtegal. Dalam satu hari, nama Padangtegal diumumkan dari dua panggung kehormatan di Bali. Penghargaan pertama diberikan atas keberhasilan membangun kewirausahaan komunal berbasis desa adat, sedangkan penghargaan kedua menjadi pengakuan atas pengabdian panjang dalam menjaga dan mewariskan seni undagi atau arsitektur tradisional Bali.

Panggung kehormatan pertama berlangsung pada pagi hari di Aula Taman Asoka, Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar. Dalam rangkaian pembukaan Global Hindu Business Conference, nama I Made Parmita, Jro Bendesa Adat Padangtegal, dipanggil untuk menerima Prajaniti Lokasamgraha Award 2026 sebagai representasi BUPDA dan Desa Adat Padangtegal.

Penghargaan nasional tersebut diberikan oleh Dewan Pimpinan Pusat Prajaniti Hindu Indonesia kepada BUPDA Desa Adat Padangtegal. Penetapannya tertuang dalam Surat DPP Prajaniti Hindu Indonesia, tertanggal 2 Juni 2026, berdasarkan keputusan rapat DPP Prajaniti Hindu Indonesia pada 19 Mei 2026.

Dalam surat tersebut dinyatakan bahwa BUPDA Desa Adat Padangtegal ditetapkan sebagai penerima Prajaniti Lokasamgraha Award 2026 atas keberhasilannya membangun model kewirausahaan komunal berbasis desa adat. Model pengelolaan tersebut dinilai mampu mengintegrasikan pelestarian budaya, konservasi lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Penghargaan itu tidak hanya ditujukan kepada satu orang. I Made Parmita menerima penghargaan dalam kedudukannya sebagai Jro Bendesa Adat Padangtegal sekaligus representasi dari prajuru, pengelola BUPDA, serta seluruh krama yang turut menjaga dan mengembangkan berbagai potensi Desa Adat Padangtegal.

Penghargaan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan usaha desa adat tidak semata-mata dijalankan untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Lebih dari itu, BUPDA menjadi instrumen untuk memperkuat kemandirian desa adat, menjaga warisan budaya, melindungi lingkungan, dan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Nama Padangtegal Kembali Menggema di Ardha Candra

Kedua, pada malam harinya, nama Padangtegal kembali menggema dari Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar. Kali ini, I Nyoman Artana, A.Ma.Pd., Undagi Padangtegal , menerima Penghargaan Adi Sewaka Nugraha Tahun 2026 dalam bidang seni undagi atau arsitektur tradisional Bali.

I Nyoman Artana menjadi salah satu dari 12 seniman, budayawan, dan pengabdi seni yang menerima penghargaan tersebut pada penutupan Pesta Kesenian Bali XLVIII Tahun 2026. Adi Sewaka Nugraha diberikan oleh Pemerintah Provinsi Bali sebagai bentuk penghormatan kepada para pelaku yang telah mengabdikan diri dalam menjaga, mengembangkan, dan memajukan seni serta budaya Bali.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas perjalanan panjang I Nyoman Artana dalam dunia undagi. Pengabdiannya tidak hanya terlihat melalui pembuatan bade dan wadah, tetapi juga dalam pembangunan serta pemugaran merajan, rumah adat, dan kompleks pura. Pengetahuannya mencakup tata ruang, ukuran, struktur, bahan, hingga nilai-nilai kosmologis dan spiritual yang mendasari arsitektur tradisional Bali.

Karya Jro Mangku Dukut tidak hanya dikenal di Padangtegal dan berbagai daerah di Bali. Keahliannya juga telah menjangkau mancanegara. Ia pernah merancang instalasi bade untuk dipamerkan di Italia, membuat wadah Padma Sari yang dikirim ke Jerman, serta terlibat dalam pembuatan ogoh-ogoh di Barcelona, Spanyol. Alat musik angklung bambu hasil karyanya juga pernah dikirim ke Jepang dan Amerika Serikat.

Di samping berkarya sebagai undagi, I Nyoman Artana juga dikenal sebagai pendidik, pembuat alat musik tradisional, penulis, pelatih seni, dan narasumber berbagai kegiatan akademik. Pengetahuannya tentang Astha Kosala Kosali, Astha Bumi, dan Dharma Laksana tidak hanya dipraktikkan, tetapi juga didokumentasikan dan diwariskan kepada anak, keponakan, murid, mahasiswa, serta generasi penerus.

Karena itu, penghargaan yang diterimanya bukan hanya penghormatan terhadap karya-karya yang telah selesai dibangun. Adi Sewaka Nugraha juga menjadi pengakuan terhadap pengetahuan yang terus hidup dan berkembang melalui orang-orang yang pernah belajar darinya.

Pengakuan atas Ekonomi Komunal dan Warisan Budaya

Dua penghargaan yang diterima pada hari yang sama memiliki bidang berbeda, tetapi berangkat dari semangat yang serupa.

Prajaniti Lokasamgraha Award 2026 menjadi pengakuan terhadap keberhasilan kolektif BUPDA Desa Adat Padangtegal dalam membangun usaha komunal yang berpijak pada pelestarian budaya, konservasi lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Adi Sewaka Nugraha 2026 menjadi penghormatan terhadap ketekunan seorang undagi Padangtegal dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan pengetahuan arsitektur tradisional Bali.

Penghargaan pertama menunjukkan kemampuan Padangtegal mengelola potensi desa secara profesional dan berkelanjutan. Penghargaan kedua memperlihatkan kekuatan Padangtegal dalam melahirkan dan merawat insan budaya yang pengetahuan serta karyanya diakui hingga mancanegara.

Kedua pencapaian tersebut saling melengkapi. Kemajuan desa adat tidak hanya diukur dari keberhasilan ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga manusia, pengetahuan, lingkungan, adat, dan budaya yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Hari Saniscara Wage Medangsia, 11 Juli 2026, akhirnya tercatat sebagai salah satu hari membanggakan bagi Desa Adat Padangtegal. Sejak pagi hingga malam, nama Padangtegal disebut dari dua panggung kehormatan: di UNHI Denpasar melalui penghargaan yang diterima I Made Parmita, Jro Bendesa Adat Padangtegal, dan di Ardha Candra melalui penghargaan yang diterima I Nyoman Artana, Undagi Padangtegal.

Pencapaian itu bukan hanya kebanggaan bagi kedua penerima, tetapi kebanggaan seluruh krama Desa Adat Padangtegal. Di dalamnya terdapat kerja bersama, ketekunan, pengabdian, semangat ngayah, serta komitmen untuk terus berkembang tanpa meninggalkan akar budaya dan jati diri.

Dua panggung, dua penghargaan, dan satu nama yang menggema: Desa Adat Padangtegal.

Recent Posts

  • Prajaniti Award & Adi Sewaka Nugraha
  • Undagi Bali yang Mendunia
  • BLT Hari Raya untuk Krama Padangtegal
  • EED PIODALAN ALIT – PURA DALEM AGUNG PADANGTEGAL
  • EED NGUNYA KUNINGAN

Archives

  • July 2026
  • June 2026
  • February 2026
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025

Categories

  • Ceremony
  • Community
  • News