Skip to content

Desa Adat Padangtegal – Ubud

Angresangsya Mukyaning Dharma

Menu
  • Welcome
  • About Padangtegal
    • About Us
    • History
      • Sejarah Pura Dalem Agung Padangtegal
    • Religion & Spiritual
    • Organization
    • Business
      • Monkey Forest Ubud
      • LPD
      • Rumah Kompos
      • Bali Forest School
  • Photo Gallery
  • Events
  • Contact Us
  • Links
Menu

Undagi Bali yang Mendunia

Posted on July 12, 2026 by padang

I Nyoman Artana, Undagi Padangtegal yang Mendunia, Raih Adi Sewaka Nugraha 2026

PADANGTEGAL — Kebanggaan bagi krama Desa Adat Padangtegal. I Nyoman Artana, A.Ma.Pd., yang akrab disapa Jro Mangku Dukut, dianugerahi Penghargaan Adi Sewaka Nugraha Tahun 2026 dalam bidang seni undagi atau arsitektur tradisional Bali.

Sosok I Nyoman Artana, A.Ma.Pd. atau Jro Mangku Nyoman Artana begitu lekat dengan dunia seni, khususnya arsitektur tradisional Bali atau undagi. Pria yang akrab disapa Jro Mangku Dukut atau Pakman Rai dan beliau lebih akrab dipanggil “Kak Bade” oleh cucu-cucunya dalam keseharian maupun saat mulai ikut belajar sambil bermain jika ada pengerjaan bade di rumahnya yang asri ini telah malang melintang dalam dunia arsitektur. Bahkan karyanya telah diakui hingga mancanegara.

Jro Mangku Dukut menjadi salah satu dari 12 seniman, budayawan, dan pengabdi seni yang menerima penghargaan tersebut pada penutupan Pesta Kesenian Bali XLVIII di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Sabtu, 11 Juli 2026.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas perjalanan panjangnya dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan pengetahuan arsitektur tradisional Bali. Pengabdiannya tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan bade, wadah, merajan, dan kompleks pura, tetapi juga melalui seni musik, sastra tradisional, pendidikan, penelitian, serta pembinaan generasi penerus.

Tumbuh dalam Tradisi Padangtegal

Jro Mangku I Nyoman Artana lahir di Gianyar pada Kamis, 16 Oktober 1947. Berasal dari Padangtegal, ia tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan kehidupan adat, upacara keagamaan, kesenian, dan tradisi arsitektur Bali.

Kedekatannya dengan dunia undagi telah berlangsung sejak masa kanak-kanak. Sejak sekitar tahun 1954, ia mulai mempelajari dan mengasah pengetahuan tentang bangunan tradisional, tata ruang, ukuran, bahan, serta berbagai sarana upacara yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali.

Dalam perjalanan pengabdiannya, Jro Mangku Dukut mengerjakan berbagai pembangunan dan pemugaran, mulai dari pembuatan bade atau wadah, restorasi rumah adat, renovasi merajan, hingga pembangunan kompleks pura di berbagai daerah.

Karyanya telah digunakan di sejumlah wilayah di Bali, antara lain Ubud dan daerah lain di Kabupaten Gianyar, Buleleng, Karangasem, Denpasar, serta Badung. Sejumlah karya monumental yang pernah dibuatnya meliputi Bade Gunung Lima Tumpang Siya, Gunung Pitu Tumpang Siya, Gunung Siya Tumpang Siya, dan Gunung Siya Tumpang Solas.

Karya Menembus Mancanegara

Keahlian Jro Mangku Dukut tidak hanya dikenal di Bali. Karya arsitektur dan keseniannya juga telah menjangkau berbagai negara.

Ia pernah merancang instalasi bade untuk dipamerkan di Italia, membuat wadah Padma Sari yang dikirim ke Jerman, serta terlibat dalam pembuatan ogoh-ogoh di Barcelona, Spanyol. Atas dedikasi tersebut, ia memperoleh sertifikat penghargaan dari Institut del Teatre Barcelona.

Dalam bidang seni musik, alat musik angklung bambu hasil karyanya juga telah dikirim ke Jepang dan Amerika Serikat. Pencapaian ini memperlihatkan bahwa pengetahuan tradisional yang berakar kuat di Padangtegal dapat diterima, dipelajari, dan diapresiasi oleh masyarakat dunia.

Bagi Jro Mangku Dukut, tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Tradisi merupakan pengetahuan hidup yang dapat terus dikembangkan tanpa kehilangan nilai, fungsi, dan kesakralannya.

Undagi, Pembuat Alat Musik, dan Penulis

Selain dikenal sebagai undagi, Jro Mangku Dukut juga piawai membuat berbagai alat musik tradisional berbahan bambu, terutama angklung. Pengetahuannya dalam arsitektur Bali dituangkan pula dalam penyusunan pedoman yang berkaitan dengan Astha Kosala Kosali, Astha Bumi, dan Dharma Laksana.

Sebagian pengetahuannya juga ditulis dalam bentuk naskah geguritan. Melalui cara tersebut, ilmu yang sebelumnya lebih banyak diwariskan secara lisan dapat didokumentasikan dan dipelajari oleh generasi berikutnya.

Keahlian dan pemikirannya membuat Jro Mangku Dukut kerap diundang sebagai narasumber dalam lokakarya berskala nasional. Ia berkolaborasi dengan mahasiswa arsitektur dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain dalam Workshop Nenun Ruang pada Juli 2014, Workshop Critical Context Tectonic Community yang diselenggarakan Ddap Architect pada Agustus 2019, serta workshop mahasiswa Universitas Pelita Harapan pada Oktober 2025.

Dalam salah satu kegiatan kolaborasi, ia mendampingi sembilan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia untuk membuat maket mini bade berukuran sekitar 60 sentimeter. Proses tersebut tidak hanya memperkenalkan bentuk fisik bade, tetapi juga pemikiran, hitungan, struktur, serta nilai kosmologis yang melandasi pembuatannya.

Guru yang Tidak Pernah Berhenti Berkesenian

Perjalanan hidup Jro Mangku Dukut juga memperlihatkan keseimbangan antara pengabdian formal di dunia pendidikan dan kesetiaannya terhadap seni serta budaya Bali.

Ia memulai karier sebagai guru sekolah dasar di SD Sribatu, Bangli, pada tahun 1970. Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menjabat sebagai Kepala SD No. 4 Peliatan pada periode 1996–2002 dan Kepala SD No. 2 Ubud pada periode 2002–2007. Ia memasuki masa purnabakti pada 1 November 2007.

Namun, kesibukannya sebagai pendidik tidak menghentikan kegiatan berkesenian. Di luar jam dinas, ia aktif dalam belasan kelompok seni. Ia antara lain memimpin dan melatih Sekaa Angklung sejak tahun 1986 serta terlibat dalam Sekaa Gong Desa Puseh sejak tahun 1964.

Jro Mangku Dukut juga aktif di Sekaa Gong Sadha Budaya, Sekaa Gong Padang Subadra, Sekaa Gong Suling, Sekaa Gong Suling Banjar Taman Kelod, dan Sekaa Gong Warda Arma.

Dalam seni pertunjukan, ia terlibat dalam Sekaa Kecak Teruna Jenggala dan pernah berperan sebagai penari Garuda atau Paksi. Ia juga aktif bersama Sekaa Janger Peliatan dan Sekaa Barong Landung Padangtegal.

Menularkan Pengetahuan kepada Generasi Muda

Sebagai seorang pendidik, Jro Mangku Dukut tidak hanya berkarya untuk dirinya sendiri. Ia secara konsisten membagikan pengetahuan kepada anak-anak dan generasi muda.

Ia pernah melatih angklung bambu di belasan sekolah dasar yang tersebar di Sribatu, Peliatan, Petulu, Ubud, Celuk, Sukawati, Mas, Tegallalang, hingga Punggul. Ia juga menjadi pelatih janger di SDN 2 Ubud, pelatih gong PKK Padangtegal, pelatih drum band SDN 6 Mas, dan pelatih drum band TK Kencana Kumara Mas.

Baginya, regenerasi merupakan bagian penting dari perjalanan kebudayaan. Kesenian dan ilmu undagi tidak akan bertahan apabila hanya disimpan oleh satu orang. Pengetahuan tersebut harus dipraktikkan, diajarkan, dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan dasar-dasar tradisinya.

Warisan yang Terus Hidup

Pengetahuan Jro Mangku Dukut kini telah diteruskan dan dipraktikkan oleh anak, keponakan, murid, serta generasi penerusnya.

Di antaranya adalah I Wayan Wester atau Mangku Dalem di Lombok Barat, yang memiliki keahlian dalam pembuatan bade dan petulangan. I Kadek Suambawa di Kedewatan mengembangkan kerajinan sarana dan perlengkapan upacara ngaben.

I Nyoman Sukarta meneruskan pengetahuan tentang arsitektur bangunan Bali dan pembuatan sarana ngaben. I Made Suantara menerapkan pengetahuan Astha Kosali dalam konstruksi bangunan publik modern, seperti wantilan.

I Made Rai Ardana menggabungkan pengetahuan Astha Kosala Kosali dan Astha Bumi dalam desain perumahan. Sementara itu, I Putu Gede Suyoga mendokumentasikan pengetahuan Jro Mangku Dukut ke dalam buku panduan terstruktur berjudul Arsitektur Bade.

Warisan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian Jro Mangku Dukut tidak hanya dapat dilihat melalui bangunan atau karya yang telah selesai. Warisan terbesarnya hidup dalam diri orang-orang yang meneruskan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang telah ia ajarkan.

Menjadi Rujukan Akademik

Pemikiran Jro Mangku Dukut juga menjadi rujukan dalam dunia akademik. Ia pernah menjadi narasumber bagi mahasiswa yang menyusun skripsi mengenai arsitektur dan struktur bade, serta penelitian tesis tentang penerapan matematika pada ukuran dan kosmologi tradisional Bali.

Kediamannya kerap dikunjungi wisatawan, mahasiswa, arsitek, dan peneliti mancanegara yang ingin melihat secara langsung hasil karya sekaligus mempelajari proses pembuatannya.

Di luar bidang seni, ia juga aktif dalam berbagai organisasi. Ia pernah terlibat dalam GSNI Ranting Ubud, menjadi sekretaris Persatuan Pelajar Sekolah Guru Denpasar, menjadi Pembina Pramuka sejak tahun 1976, serta pernah menjabat Ketua KNPI Kecamatan Ubud.

Penghargaan atas Pengabdian Panjang

Atas pengabdiannya dalam seni dan budaya, Jro Mangku Dukut menerima Penghargaan Seni Widya Kusuma dari Pemerintah Kabupaten Gianyar pada tahun 2014.

Pada tahun 2026, pengabdiannya kembali mendapat pengakuan melalui Penghargaan Adi Sewaka Nugraha dari Pemerintah Provinsi Bali dalam bidang seni undagi.

Bagi Desa Adat Padangtegal, penghargaan ini merupakan kebanggaan sekaligus pengingat bahwa kelestarian budaya lahir dari ketekunan orang-orang yang terus berkarya, ngayah, mengajar, dan menyiapkan generasi penerus.

Perjalanan Jro Mangku I Nyoman Artana memperlihatkan bahwa undagi bukan semata-mata keterampilan mendirikan bangunan. Undagi merupakan jalan pengabdian yang menyatukan pengetahuan, seni, agama, pendidikan, dan tanggung jawab antargenerasi.

Melalui karya serta ilmu yang diwariskannya, nama Padangtegal turut dikenal sebagai tempat tumbuhnya seorang undagi yang karyanya telah menembus berbagai daerah dan negara.

Penerima Adi Sewaka Nugraha Tahun 2026

Recent Posts

  • Prajaniti Award & Adi Sewaka Nugraha
  • Undagi Bali yang Mendunia
  • BLT Hari Raya untuk Krama Padangtegal
  • EED PIODALAN ALIT – PURA DALEM AGUNG PADANGTEGAL
  • EED NGUNYA KUNINGAN

Archives

  • July 2026
  • June 2026
  • February 2026
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025

Categories

  • Ceremony
  • Community
  • News