Sejarah Singkat
Pura Dalem Agung Padangtegal merupakan salah satu pura Kahyangan Desa yang memiliki posisi sentral dalam sistem religius dan struktur adat Desa Adat Padangtegal, Ubud, Kabupaten Gianyar Regency, Indonesia. Keberadaannya tidak hanya dimaknai sebagai tempat pemujaan, tetapi juga sebagai pusat orientasi spiritual yang berkaitan erat dengan kosmologi dan tata ruang sakral masyarakat Bali.
Dalam sistem Tri Kahyangan Desa, Pura Dalem berfungsi sebagai stana pemujaan Ida Bhatara Dalem, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam aspek pralina (pelebur). Secara teologis, pura ini berhubungan dengan siklus kehidupan dan kematian, pemuliaan leluhur, serta penjagaan keseimbangan antara unsur sekala (lahiriah) dan niskala (spiritual).
Periodisasi: Perkiraan Era Bali Kuno (± Abad IX / 890-an)
Berdasarkan pendekatan perhitungan kalender tradisional serta penelusuran narasi lisan para tetua desa, terdapat kemungkinan kuat bahwa Pura Dalem Agung Padangtegal telah ada sejak zaman Bali Kuno, sekitar ± tahun 894–895 M (abad ke-9 Masehi), dan bukan pada masa Majapahit sebagaimana dugaan sebelumnya.
Periode abad IX di Bali dikenal sebagai masa berkembangnya kerajaan-kerajaan Bali Kuno yang meninggalkan berbagai prasasti serta jejak sistem keagamaan Siwa-Buddha. Pada masa ini, struktur pemujaan terhadap manifestasi Dewa Siwa dalam aspek pelebur telah dikenal luas, termasuk konsep Dalem yang berkaitan dengan kematian dan penyucian roh.
Walaupun hingga kini belum ditemukan prasasti atau bukti arkeologis yang secara eksplisit menyebut nama Pura Dalem Agung Padangtegal, pendekatan komparatif terhadap:
- Pola kalender rahina suci,
- Sistem Tri Kahyangan,
- Struktur ruang sakral pura Dalem yang berdampingan dengan setra dan Pura Prajapati,
menunjukkan karakteristik yang lebih dekat dengan pola religius era Bali Kuno dibandingkan struktur yang berkembang pada masa Majapahit.
Dengan demikian, penanggalan sekitar ±890-an dipahami sebagai rekonstruksi historis berbasis pendekatan kalender tradisional dan memori kolektif masyarakat, bukan sebagai klaim kronologis yang bersifat absolut.
Puja Wali (Odalan) pada Masa Awal
Tradisi lisan masyarakat menyebutkan bahwa pada masa awalnya, Puja Wali (Odalan) Pura Dalem Agung dilaksanakan saat Tilem Kesanga yang bertepatan dengan Tumpek Wayang.
Secara kosmologis:
- Tilem Kesanga merupakan momentum penyucian jagat menjelang Tahun Baru Saka, identik dengan Bhuta Yadnya dan penyeimbangan kekuatan bhuta kala.
- Tumpek Wayang memiliki dimensi spiritual yang kuat terkait perlindungan terhadap unsur-unsur adikodrati dan kekuatan tak kasatmata.
Pertemuan kedua rahina tersebut mencerminkan simbolisme pelebur dan penetralisir energi negatif, selaras dengan fungsi Pura Dalem dalam struktur religius desa. Pola ini menunjukkan kemungkinan bahwa sistem ritual Pura Dalem Agung telah terbentuk sejak fase awal perkembangan agama Siwa di Bali Kuno.
Lingkungan Sakral dan Konsepsi Kosmologis
Pura Dalem Agung berada dalam kawasan hutan yang kini dikenal sebagai Sacred Monkey Forest Sanctuary. Dalam perspektif kosmologi Bali Kuno, hutan (wana) dipahami sebagai ruang transisi antara dunia manusia dan alam niskala. Penempatan pura Dalem di kawasan hutan mencerminkan pemahaman kosmologis kuno tentang ruang pelebur (pralina) yang berada di batas (liminal space).
Struktur ini memperkuat asumsi bahwa pola penataan ruang sakral Pura Dalem Agung memiliki akar konseptual yang lebih tua, sejalan dengan sistem religius Bali pra-Majapahit.
Penutup
Dengan mempertimbangkan pendekatan perhitungan kalender tradisional, pola ritual, struktur kosmologis, serta tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, terdapat kemungkinan besar bahwa Pura Dalem Agung Padangtegal telah berdiri sejak zaman Bali Kuno sekitar ±890-an (abad ke-9 Masehi).
Walaupun belum didukung bukti prasasti yang definitif, kesinambungan praktik keagamaan dan memori kolektif masyarakat menjadi indikator penting dalam memahami kedalaman historis pura ini. Oleh karena itu, Pura Dalem Agung Padangtegal dapat dipandang sebagai salah satu warisan spiritual kuno yang tetap hidup dan terpelihara dalam dinamika Desa Adat Padangtegal hingga masa kini.
Rekonstruksi Kronologi:
Antara Bali Kuno dan Era Majapahit
Upaya merekonstruksi kronologi berdirinya Pura Dalem Agung Padangtegal memerlukan pendekatan yang hati-hati dan multidisipliner. Keterbatasan bukti tertulis, seperti prasasti atau dokumen lontar yang secara eksplisit menyebutkan waktu pendirian pura, menuntut penggunaan metode interpretatif melalui tradisi lisan, analisis kosmologis, serta perbandingan historis dengan perkembangan sistem keagamaan di Bali.
1. Lapisan Awal: Kemungkinan Era Bali Kuno (± Abad IX / 890-an)
Pendekatan berbasis perhitungan kalender tradisional dan struktur ritual menunjukkan kemungkinan bahwa cikal bakal Pura Dalem Agung telah ada sejak era Bali Kuno, sekitar abad ke-9 Masehi. Periode ini dikenal sebagai fase berkembangnya kerajaan-kerajaan Bali Kuno dengan corak religius Siwa-Buddha.
Beberapa indikator yang mendukung asumsi ini antara lain:
- Pola pemujaan terhadap aspek pralina (Siwa-Dalem) yang telah dikenal dalam tradisi Bali Kuno.
- Penempatan pura dalam kawasan hutan (wana), yang dalam kosmologi kuno dipahami sebagai ruang liminal antara dunia manusia dan alam niskala.
- Keterkaitan Pura Dalem dengan setra dan Pura Prajapati, yang menunjukkan struktur religius yang bersifat sangat tua dan mendasar.
- Tradisi Puja Wali awal yang dikaitkan dengan Tilem Kesanga dan Tumpek Wayang, dua rahina dengan dimensi kosmis yang kuat dan berakar dalam sistem kalender kuno.
Meskipun tidak didukung prasasti spesifik yang menyebut nama Pura Dalem Agung Padangtegal, kesesuaian pola kosmologis dan ritual ini mengarah pada kemungkinan bahwa tempat suci tersebut telah ada dalam bentuk awalnya sejak periode Bali Kuno.
2. Lapisan Reorganisasi: Era Awal Majapahit (± Abad XIV)
Di sisi lain, memori kolektif masyarakat selama ini cenderung mengaitkan keberadaan Pura Dalem Agung dengan abad ke-14, masa awal pengaruh Majapahit di Bali. Fenomena ini dapat dipahami dalam konteks sejarah Bali secara lebih luas.
Era Majapahit merupakan periode penting dalam konsolidasi struktur adat dan keagamaan di Bali. Pada masa ini terjadi:
- Penataan ulang sistem pemerintahan desa adat.
- Penguatan konsep Tri Kahyangan Desa secara lebih sistematis.
- Standarisasi kalender ritual dan tatanan upacara.
- Renovasi atau pembangunan kembali sejumlah pura yang telah ada sebelumnya.
Dengan demikian, sangat mungkin bahwa pada abad ke-14 terjadi proses reorganisasi, pemugaran, atau institusionalisasi ulang Pura Dalem Agung. Peristiwa inilah yang kemudian lebih kuat tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai “awal” berdirinya pura, meskipun secara substansial tempat suci tersebut mungkin telah ada jauh sebelumnya.
3. Dinamika Memori Kolektif dan Historiografi Lokal
Dalam historiografi desa-desa Bali, era Majapahit sering menjadi jangkar kronologis karena periode tersebut relatif lebih dikenal dan terdokumentasi dalam narasi sejarah Bali. Ketika bukti tertulis dari masa yang lebih tua tidak tersedia, masyarakat cenderung mengaitkan asal-usul institusi adat dan keagamaan dengan masa tersebut.
Fenomena ini bukanlah kekeliruan, melainkan bagian dari dinamika memori kolektif. Tradisi lisan menyimpan kebenaran historis dalam bentuk simbolik dan naratif, yang kemudian perlu dibaca secara kontekstual melalui pendekatan ilmiah.
4. Sintesis Historis
Berdasarkan analisis tersebut, kronologi Pura Dalem Agung Padangtegal dapat dipahami dalam dua lapisan sejarah:
- Lapisan Awal (±890-an, Bali Kuno)
Cikal bakal tempat suci dengan fungsi pemujaan aspek Dalem kemungkinan telah ada, sejalan dengan perkembangan sistem religius Siwa-Buddha di Bali Kuno. - Lapisan Reorganisasi (±1340-an, Era Majapahit)
Terjadi penataan ulang, penguatan struktur Tri Kahyangan, serta kemungkinan renovasi atau pelembagaan ritual yang kemudian menjadi dasar ingatan kolektif masyarakat.
Pendekatan berlapis ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif dan tidak reduktif terhadap sejarah Pura Dalem Agung. Alih-alih memilih satu periode secara tunggal, rekonstruksi ini menempatkan pura sebagai entitas yang tumbuh dan berkembang melalui beberapa fase sejarah.
Dengan demikian, Pura Dalem Agung Padangtegal dapat dipahami sebagai warisan spiritual yang memiliki akar kemungkinan sejak era Bali Kuno, yang kemudian mengalami penguatan dan penataan kembali pada masa Majapahit, serta terus hidup dalam dinamika Desa Adat Padangtegal hingga kini.